MALANG || SINGHASARI-POST
Kamis(29/10/2026)– Rencana pengoperasian Transjatim koridor Malang Raya MLG2 menjadi momentum penting untuk membenahi sistem transportasi publik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. Karena itu, rencana mengintegrasikan layanan tersebut dengan Terminal Arjosari dinilai perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah.
Kepala Lembaga Penelitian, Pengabdian Masyarakat, Kerja Sama, dan Inkubator Bisnis (LPPM-KSIB) Institut Teknologi Insan Cendekia Mandiri (ITICM), Arvendo Mahardika, S.Pd., M.M., menilai kehadiran Transjatim MLG2 di Terminal Arjosari berpotensi menghidupkan kembali aktivitas terminal, khususnya Terminal Tipe C yang dinilai belum berfungsi optimal.
Menurutnya, integrasi antarmoda transportasi tidak hanya berkaitan dengan kemudahan perjalanan penumpang, tetapi juga berpeluang menggerakkan perekonomian masyarakat melalui peningkatan aktivitas perdagangan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Arvendo menyampaikan pandangan tersebut saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (29/10/2026).
Ia menjelaskan, selama ini aktivitas di kawasan Arjosari lebih banyak terpusat pada Terminal Tipe A yang melayani bus antarkota antarprovinsi (AKAP) dan antarkota dalam provinsi (AKDP). Sementara itu, integrasi Transjatim dengan Terminal Tipe C dinilai dapat membuka peluang baru bagi pergerakan penumpang dan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
“Jika Transjatim MLG2 tidak masuk ke Arjosari, kerugiannya sangat masif. Jika Transjatim masuk, Terminal Tipe C akan kembali hidup. Penumpang bisa berpindah moda transportasi dengan aman dan nyaman di dalam satu kawasan dengan jadwal yang pasti. Lebih dari itu, stan-stan UMKM di Terminal Tipe C yang dulu sempat menjadi pusat keramaian dan tempat cangkrukan strategis akan kembali bangkit,” ujar Arvendo.
Arvendo juga mengingatkan bahwa Malang Raya sebelumnya memiliki jalur angkutan kota Madyopuro–Arjosari atau angkot MA yang berperan penting dalam mendukung mobilitas warga. Trayek angkutan berwarna merah tersebut diketahui berhenti beroperasi sekitar 2018.
Menurutnya, Transjatim MLG2 berpotensi menghadirkan kembali konektivitas serupa melalui layanan yang lebih modern dengan jangkauan perjalanan lebih luas hingga Kepanjen, Kabupaten Malang.
Pengalaman pribadinya sebagai pengguna angkot MA ketika masih duduk di bangku SMK membuatnya memahami pentingnya jalur tersebut bagi masyarakat.
Ia berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Malang dapat mengupayakan integrasi Transjatim MLG2 dengan Terminal Arjosari berdasarkan kajian yang komprehensif.
Baginya, kebijakan transportasi publik semestinya berorientasi pada kebutuhan masyarakat untuk memperoleh layanan yang mudah dijangkau, terhubung, aman, dan nyaman.
Selain mengangkut penumpang, Arvendo menyoroti potensi layanan Tradisi atau Transjatim Ekspedisi yang turut mendukung distribusi barang melalui sistem pengiriman pada hari yang sama (same-day), dengan prosedur operasional yang jelas.
Layanan tersebut dinilai dapat menjadi alternatif distribusi bagi pelaku UMKM yang membutuhkan pengiriman barang dengan biaya terjangkau dan jangkauan layanan yang lebih luas.
Menurutnya, apabila konektivitas transportasi semakin baik, pelaku usaha kecil berpeluang memperoleh akses distribusi yang lebih efisien. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pedagang di sekitar terminal, tetapi juga oleh pelaku usaha yang membutuhkan layanan pengiriman untuk memperluas pasar.
“Layanan Tradisi ini adalah game changer bagi logistik UMKM kita. Dampak ikutannya sangat positif dan luas. Kalau bus ini dilarang masuk Arjosari, sama saja kita memutus urat nadi distribusi murah yang bisa dinikmati pelaku usaha kecil,” tegasnya.
Menanggapi kekhawatiran sebagian sopir angkutan kota mengenai potensi persaingan trayek, Arvendo meminta pemerintah segera mencari solusi dengan memanfaatkan kajian yang telah tersedia.
Ia menyebut kajian bersama Universitas Brawijaya yang dilakukan sekitar dua tahun lalu dapat menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan.
Arvendo menilai, penyelesaian persoalan transportasi tidak seharusnya menghambat upaya peningkatan pelayanan publik dan pengembangan ekonomi masyarakat. Sebaliknya, pemerintah perlu memastikan setiap kebijakan memberikan manfaat yang seimbang bagi penumpang, pelaku UMKM, dan pengusaha transportasi konvensional.
Pandangan serupa disampaikan pakar smart city ITICM, Ari Widianto, S.Kom., M.Kom. Ia menilai rencana mengintegrasikan Transjatim MLG2 dengan Terminal Arjosari merupakan kesempatan untuk membangun sistem transportasi Malang Raya yang lebih terencana dan saling terhubung.
Ari yang juga menjabat sebagai Kepala Program Studi Informatika menekankan pentingnya menjadikan kajian kelayakan (feasibility study) sebagai landasan pengambilan keputusan.
Menurutnya, berbagai aspek harus diperhitungkan, mulai dari teknis, operasional, ekonomi, sosial, hingga tata kelola dan kepentingan seluruh pemangku kepentingan.
“Dari sudut pandang saya, kita perlu melihat terlebih dahulu hasil feasibility study yang sudah ada. Banyak aspek yang perlu dikaji, mulai dari teknis, operasional, ekonomi, sosial, tata kelola, hingga kepentingan seluruh stakeholder. Jadi, pendekatannya tidak bisa hanya dari sisi teknis,” jelas Ari.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi informasi dapat membantu pemerintah mengoptimalkan rute, menganalisis kebutuhan transportasi, mengintegrasikan layanan, serta memantau operasional kendaraan.
Namun, penerapan teknologi harus didasarkan pada persoalan nyata yang ingin diselesaikan. Pemerintah perlu memetakan kondisi transportasi saat ini dan menentukan kondisi ideal yang hendak diwujudkan agar solusi yang dipilih benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
“Teknologi bisa membantu banyak hal, termasuk mengintegrasikan layanan transportasi. Tetapi, kita harus memahami terlebih dahulu masalah yang ingin diselesaikan dan nilai (value) yang diharapkan masyarakat. Tujuannya bukan sekadar menghadirkan sistem yang canggih, melainkan menciptakan layanan transportasi yang baik dan memberikan manfaat bagi semua pihak,” ungkapnya.
Ari menegaskan, pengembangan transportasi publik seharusnya tidak dipandang sebagai persaingan antara moda transportasi modern dan angkutan konvensional.
Menurutnya, Transjatim dan angkot dapat memiliki peran berbeda yang saling melengkapi apabila penataan rute, titik pemberhentian, dan konektivitas layanan dirancang dengan baik.
Pemerintah pun dinilai memiliki peran penting untuk menjembatani kepentingan berbagai pihak, termasuk masyarakat pengguna transportasi, sopir angkot, operator bus, serta pelaku UMKM.
Dengan perencanaan yang matang, integrasi layanan diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan perjalanan sekaligus menjaga keberlangsungan usaha para pelaku transportasi yang telah lebih dahulu beroperasi.
“Harapannya, kita tidak melihat persoalan ini sebagai pertarungan antara transportasi modern dan transportasi konvensional. Yang perlu dibangun adalah sistem yang membuat keduanya bisa memberikan manfaat sesuai perannya,” pungkas Ari.
Wacana integrasi Transjatim MLG2 dengan Terminal Arjosari pada akhirnya menjadi bagian dari tantangan penataan transportasi Malang Raya. Keputusan yang diambil diharapkan tidak hanya berorientasi pada kelancaran operasional bus, tetapi juga mampu memperluas akses mobilitas masyarakat, menggerakkan UMKM, dan menciptakan ekosistem transportasi yang berkelanjutan.
(Red).
