Kadisparbud Kabupaten Malang Grama Tirta Cara Jadi Momentum Melestarikan Budaya dan Menjaga Jati Diri Bangsa

MALANG | SINGHASARI-POST
Minggu (18/10/2026)– Peringatan Hari Jadi ke-1.121 Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, melalui tradisi sakral Grama Tirta Cara, menjadi momentum penting untuk memperkuat pelestarian budaya sekaligus menanamkan nilai-nilai moral kepada generasi penerus.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Firnando Hasiholan Matondang, menegaskan bahwa kebudayaan tidak semata-mata berkaitan dengan sektor pariwisata, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membangun peradaban dan mempertahankan jati diri bangsa.

Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri rangkaian peringatan Hari Jadi ke-1.121 Desa Toyomarto, Minggu (18/10/2026), dengan didampingi Kepala Desa Toyomarto, Sumito.

Menurut Firnando, tradisi Grama Tirta Cara memiliki makna mendalam yang perlu terus dijaga dan diwariskan. Di tengah perkembangan zaman, pelestarian budaya menjadi salah satu upaya agar masyarakat tidak kehilangan akar sejarah, nilai luhur, serta identitas yang telah diwariskan para leluhur.

“Bicara kebudayaan bukan hanya mengenai pariwisata. Budaya merupakan momentum untuk membangun peradaban. Jangan sampai kita kehilangan budaya, karena ketika budaya hilang, kita juga berisiko kehilangan jati diri bangsa,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut mengajarkan masyarakat untuk mencintai alam, menjaga hubungan baik dengan sesama, serta senantiasa bersyukur atas rahmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi Firnando, pesan-pesan tersebut tidak boleh berhenti sebagai bagian dari seremoni tahunan. Lebih dari itu, nilai moral yang terkandung di dalamnya perlu dipahami, diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dan ditanamkan kepada generasi selanjutnya.

Dengan demikian, tradisi Grama Tirta Cara tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap warisan leluhur, tetapi juga sarana membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta.

Pelaksanaan tradisi tersebut juga menunjukkan bahwa kebudayaan lokal memiliki peran strategis dalam memperkuat karakter masyarakat. Ketika diwariskan secara berkelanjutan, budaya dapat menjadi fondasi bagi kehidupan sosial yang harmonis sekaligus memperkaya identitas daerah.

Sementara itu, Kepala Desa Toyomarto, Sumito, menyampaikan terima kasih atas apresiasi dan dukungan yang diberikan terhadap pelaksanaan rangkaian peringatan Hari Jadi ke-1.121 Desa Toyomarto.

Ia juga mengapresiasi seluruh warga masyarakat yang telah bahu-membahu, bersinergi, dan berpartisipasi dalam menyukseskan kegiatan tersebut. Menurutnya, semangat kebersamaan dan kerukunan menjadi bagian penting yang membuat tradisi tahunan ini dapat berlangsung dengan lancar.

Sumito turut menyampaikan penghargaan kepada jajaran aparatur pemerintah yang selama ini memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan budaya di Desa Toyomarto.

“Terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah bergotong royong dan menjaga kerukunan, serta kepada aparatur pemerintah yang selalu memberikan dukungan sehingga kegiatan ini dapat berjalan lancar,” tuturnya.

Ia berharap, peringatan hari jadi desa yang dikemas melalui tradisi budaya tersebut dapat terus dilaksanakan dan menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, memperkuat kebersamaan, serta menjaga warisan leluhur agar tetap hidup di tengah masyarakat.

Sumito juga menyampaikan harapannya agar masyarakat Singosari, khususnya warga Desa Toyomarto, senantiasa diberikan kemakmuran dan kehidupan yang semakin baik pada masa mendatang.

Menurutnya, kemajuan desa tidak hanya diukur dari pembangunan fisik, tetapi juga dari terjaganya kerukunan, kuatnya semangat gotong royong, dan kemampuan masyarakat dalam merawat nilai-nilai budaya yang menjadi bagian dari identitas bersama.

Peringatan Hari Jadi ke-1.121 Desa Toyomarto melalui Grama Tirta Cara pun menjadi pengingat bahwa warisan budaya bukan sekadar cerita masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai kehidupan yang relevan untuk masa kini dan masa depan, mulai dari rasa syukur, kepedulian terhadap alam, hingga pentingnya menjaga keharmonisan antarsesama.

Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi masyarakat, tradisi tersebut diharapkan terus lestari, sekaligus menjadi pijakan bagi generasi penerus untuk mengenal akar budayanya, menghormati leluhur, dan membangun masa depan tanpa kehilangan jati diri.
(Red).

error: Content is protected !!