NGANJUK || SINGHASARI-POST
– Musim panen raya bawang merah mulai berlangsung di sejumlah sentra produksi Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Di tengah meningkatnya pasokan dari petani, harga jual bawang merah kini berada di kisaran Rp15.000 hingga Rp18.000 per kilogram.
Penurunan harga tersebut membuat ruang keuntungan petani semakin sempit. Meski demikian, petani yang mampu mengendalikan biaya produksi dan menerapkan pola budidaya sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) masih memiliki peluang mendapatkan keuntungan.
Salah seorang petani bawang merah, mengatakan pada harga sekitar Rp15.000 per kilogram, petani masih dapat memperoleh keuntungan sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000 per kilogram apabila biaya produksi dapat ditekan.
“Selama petani dalam melakukan budidaya benar-benar menggunakan SOP yang bagus, maka Biaya Induk Produksi (BIP) itu masih sekitar Rp10.000 sampai Rp12.000. Dengan harga sekarang Rp15.000 berarti kita masih bisa untung Rp3.000 sampai Rp4.000 per kilo,” ujar petani, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, persoalan utama bukan hanya penurunan harga jual. Beban petani juga semakin berat karena biaya untuk menjalankan budidaya mengalami kenaikan.
Sejak April 2026, harga sejumlah kebutuhan pertanian seperti pupuk dan pestisida disebut mengalami peningkatan. Kondisi tersebut semakin menekan margin petani ketika bersamaan dengan turunnya harga bawang merah saat panen raya.
Tidak hanya persoalan biaya, petani juga menghadapi ancaman Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah serangan ulat grayak yang dapat berdampak terhadap kualitas maupun jumlah hasil panen.
Di tengah kondisi tersebut, penerapan SOP budidaya secara disiplin dinilai menjadi salah satu cara untuk menjaga biaya produksi tetap terkendali.
Ia menjelaskan, penggunaan pestisida perlu dilakukan secara efektif dan tidak berlebihan. Begitu pula dengan penggunaan benih yang dapat dihemat melalui pengaturan jarak tanam.
“Dengan kita menggunakan SOP yang bagus, biaya untuk pestisida itu bisa ditekan seminimal mungkin. Dengan penggunaan jarak tanam yang tidak terlalu rapat kita bisa efisiensi benih bawang merah,” jelasnya.
Menurutnya, efisiensi tersebut menjadi penting karena semakin rendah biaya produksi, semakin besar pula ruang keuntungan yang masih bisa diperoleh petani ketika harga jual berada di level rendah.
“Di situlah yang nantinya akan membuat BIP rendah, sehingga dalam menghadapi harga yang seperti ini kita masih bisa enjoy,” imbuhnya.
Harga bawang merah saat ini memang lebih rendah dibandingkan beberapa bulan sebelumnya. Namun, kondisi tersebut belum serta-merta membuat petani mengalami kerugian.
Dengan biaya produksi yang berada di kisaran Rp10.000 hingga Rp12.000 per kilogram dan harga jual sekitar Rp15.000 per kilogram, masih terdapat selisih yang dapat menjadi keuntungan. Persoalannya, margin tersebut sangat bergantung pada produktivitas tanaman dan kemampuan petani mengendalikan biaya.
Karena itu, masa panen raya kali ini menjadi momentum bagi petani untuk lebih cermat dalam menghitung biaya, mengatur penggunaan sarana produksi, sekaligus menjaga kualitas hasil panen.
Di tengah fluktuasi harga dan meningkatnya biaya budidaya, efisiensi menjadi salah satu kunci agar petani bawang merah Nganjuk tetap mampu bertahan dan memperoleh keuntungan.
(RIZ.)
