Arek Malang Gaungkan Hamid Rusdi Jadi Pahlawan Nasional, Sejumlah Tokoh Gelar FGD di Kota Malang

MALANG KOTA | SINGHASARI-POST
– Upaya mengusulkan Hamid Rusdi sebagai Pahlawan Nasional kembali digaungkan oleh sejumlah elemen masyarakat di Kota Malang. Melalui forum diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD), para tokoh dan komunitas berupaya menyegarkan kembali perjuangan agar sosok pejuang kemerdekaan yang lekat dengan sejarah Arek Malang tersebut memperoleh pengakuan resmi dari negara.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Arek Malang itu digelar di Kantor Dinas Sosial Kota Malang, Jumat (23/10/2026), mulai pukul 13.00 WIB. Pertemuan tersebut menjadi ruang diskusi untuk menyatukan pandangan dan memperkuat kembali usulan agar Hamid Rusdi ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia.

Ketua Malang peduli demokrasi MPD, Imam Muslich, menjelaskan bahwa Hamid Rusdi telah lama dikenal masyarakat Malang sebagai sosok pejuang yang berjasa dalam perjuangan kemerdekaan. Namun, hingga kini, menurutnya, Hamid Rusdi belum memperoleh penetapan resmi sebagai Pahlawan Nasional.

Ia menilai, jejak penghormatan masyarakat terhadap Hamid Rusdi sebenarnya telah terlihat dalam berbagai bentuk. Namanya diabadikan menjadi nama jalan, terminal, hingga lembaga pendidikan. Patung yang menggambarkan sosoknya juga menjadi bagian dari penanda penghormatan masyarakat terhadap perjuangannya.

“Hamid Rusdi itu dikenal oleh orang Malang sebagai pahlawan, tetapi belum dikukuhkan oleh Presiden sebagai Pahlawan Nasional. Secara hukum, beliau belum berstatus sebagai Pahlawan Nasional, meskipun nama jalan, patung, terminal, dan sekolah sudah menggunakan nama beliau,” ungkap Imam.

Menurutnya, pengajuan kembali tersebut penting agar penghargaan terhadap perjuangan Hamid Rusdi tidak berhenti pada penghormatan masyarakat di tingkat lokal, tetapi juga mendapatkan pengakuan resmi di tingkat nasional.

Hamid Rusdi dikenal sebagai salah satu pejuang kemerdekaan yang memiliki keterkaitan erat dengan sejarah perjuangan rakyat Malang. Kisah perjuangannya, termasuk gugur dalam peristiwa perlawanan terhadap Belanda di kawasan Wonokoyo, menjadi bagian dari ingatan sejarah masyarakat setempat.

Selain perjuangannya di medan pertempuran, sosok Hamid Rusdi juga dikaitkan dengan perkembangan bahasa walikan, bahasa khas yang hingga kini menjadi salah satu identitas budaya Arek Malang.

Imam menuturkan, berbagai kegiatan untuk mengenalkan kembali sosok Hamid Rusdi kepada masyarakat telah dilakukan. Salah satunya melalui deklarasi Malang Hebak yang disebutnya berkaitan dengan pengenalan bahasa khas Malang dan sosok Hamid Rusdi.

Kegiatan penanaman 1.000 pohon di Wonokoyo, lokasi yang dikaitkan dengan gugurnya Hamid Rusdi, juga menjadi bagian dari upaya mengenang perjuangan sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Ia berharap gerakan yang melibatkan berbagai elemen masyarakat tersebut dapat terus berkembang sehingga pengusulan Hamid Rusdi sebagai Pahlawan Nasional mendapatkan perhatian lebih luas.

“Kami sangat berharap, tahun ini atau mungkin tahun depan, Presiden bisa menetapkan Hamid Rusdi sebagai Pahlawan Nasional,” ujarnya.

Pandangan serupa disampaikan Agustinus Gunu dari Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri). Ia menekankan pentingnya peran negara dalam mengenang dan memberikan penghargaan kepada tokoh-tokoh yang telah berjuang bagi kemerdekaan Indonesia.

Menurut Agustinus, pengakuan terhadap jasa para pejuang merupakan bagian penting dalam menjaga ingatan sejarah bangsa sekaligus menanamkan nilai perjuangan kepada generasi berikutnya.

“Negara harus hadir untuk mengenang dan memperhatikan tokoh yang membuat bangsa ini merdeka. Seperti kata Bung Karno, bangsa yang besar adalah bangsa yang selalu mengingat jasa pahlawannya,” tuturnya.

Ia berharap pembahasan dalam FGD tersebut tidak berhenti sebagai forum pertemuan semata, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui koordinasi, penguatan dokumentasi sejarah, serta penyempurnaan berkas pengusulan sesuai ketentuan yang berlaku.

FGD tersebut dihadiri sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, mulai dari keluarga Hamid Rusdi, komunitas sejarah, organisasi masyarakat, akademisi, advokat, hingga kalangan veteran.

Di antara peserta yang hadir adalah Titik Gati Suharti dan Indah Yulistiati dari keluarga Hamid Rusdi; Wisnu W. dan Surya Budhi R. dari PETA Malang Kota; Agustinus Gunu dari Unitri; Imam Muslich selaku Koordinator MPD; Gunadi dari kalangan advokat; serta Wardah, Choeroel, dan Naning Suryaning dari MPD.

Hadir pula Asyhadi dari MADAS, Wahyu Hidayat dari PAMMARA, Helmi dari Anak Kolong, Bambang Irianto dari Glintung Go Green, Elfin S. A. dari Garnisun Malang, Suwarno dari Polinema, Jara Lais dari Museum Brawijaya, Gus Baihaqi dari PCNU Malang Kota, serta Sukirno dari LVRI.

Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan upaya membangun sinergi untuk mengangkat kembali sejarah perjuangan Hamid Rusdi dan memperkuat pengusulannya sebagai Pahlawan Nasional.

Melalui forum ini, para peserta diharapkan dapat menyatukan gagasan dan memperjelas langkah tindak lanjut, termasuk memperkuat dokumen sejarah serta koordinasi dengan pihak terkait.

Bagi masyarakat Malang, Hamid Rusdi bukan sekadar nama yang terpampang di jalan atau fasilitas umum. Sosoknya menjadi bagian dari ingatan kolektif tentang perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Kini, melalui gerakan bersama berbagai elemen masyarakat, harapan agar Hamid Rusdi memperoleh pengakuan resmi sebagai Pahlawan Nasional kembali disuarakan. Perjuangan tersebut diharapkan menjadi pengingat bahwa penghormatan terhadap para pejuang perlu diwujudkan melalui pelestarian sejarah, pendidikan kepada generasi muda, dan proses pengusulan yang sesuai dengan ketentuan negara.
(Red).

error: Content is protected !!