Kualitas Udara Jakarta Memburuk, Pramono Anung Minta Rumah Sakit dan Puskesmas Siaga

Jakarta | SINGHASARI-POS
Sabtu (17/10/2026)— Memburuknya kualitas udara di Ibu Kota dalam beberapa hari terakhir menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, meminta seluruh jajaran fasilitas kesehatan meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi kemungkinan bertambahnya warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat polusi udara dan kabut asap.

Pramono mengakui kondisi udara Jakarta mengalami penurunan dalam dua hingga tiga hari terakhir. Menyikapi situasi tersebut, ia menginstruksikan Dinas Kesehatan DKI Jakarta agar memastikan rumah sakit, puskesmas, hingga fasilitas pelayanan kesehatan lainnya siap memberikan penanganan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Menurutnya, langkah antisipasi diperlukan agar warga yang mengalami gangguan pernapasan maupun keluhan kesehatan lain akibat memburuknya kualitas udara dapat segera memperoleh pertolongan medis.

“Saya tidak mau menyalahkan siapa pun. Memang sekarang ini dalam dua sampai tiga hari kondisi asap kita, kondisi udara kita mengalami kondisi yang memburuk,” ujar Pramono dalam keterangannya.

Ia menegaskan telah meminta jajaran Dinas Kesehatan, terutama rumah sakit dan puskesmas, bersiap memberikan pelayanan kepada masyarakat yang terdampak.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk mengantisipasi risiko kesehatan di tengah kondisi udara yang kurang baik.

Berdasarkan data indeks kualitas udara yang disampaikan dalam laporan, kualitas udara Jakarta pada Jumat sempat mencapai angka 187. Nilai tersebut masuk kategori tidak sehat dan menempatkan Jakarta di posisi ketiga sebagai kota dengan polusi udara terburuk di dunia pada saat pengukuran dilakukan.

Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang memiliki penyakit pernapasan.

Selain aktivitas perkotaan, pergerakan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai. Pemantauan citra satelit dan analisis meteorologi menunjukkan sebaran asap berpotensi mencapai sejumlah wilayah, termasuk Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.

Arah serta kecepatan angin di berbagai lapisan atmosfer turut memengaruhi pergerakan asap. Namun, tingkat konsentrasi asap di permukaan dan kontribusinya terhadap penurunan kualitas udara Jakarta masih memerlukan pemantauan lebih lanjut.

Menghadapi kondisi tersebut, masyarakat diimbau lebih berhati-hati dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Mengurangi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, menggunakan masker yang sesuai saat harus bepergian, serta menghindari aktivitas fisik berat di area berpolusi dapat membantu mengurangi paparan polutan.

Warga yang mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, atau keluhan pernapasan yang memburuk juga disarankan segera mencari pertolongan medis.

Kesiapsiagaan fasilitas kesehatan yang diperintahkan Pramono diharapkan mampu memastikan masyarakat mendapatkan penanganan dengan cepat apabila dampak polusi udara semakin meluas.

Di tengah ancaman memburuknya kualitas udara, pemerintah dan masyarakat perlu bergerak bersama. Pemantauan lingkungan, kesiapan pelayanan kesehatan, serta kepatuhan terhadap imbauan perlindungan diri menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan warga Jakarta.
(Red).

error: Content is protected !!