Gandrung Sewu 2026 Kembang Dermo Siap Memukau Banyuwangi, Pertunjukan Kolosal Digelar 22–24 Oktober

BANYUWANGI | SINGHASARI-POST
— Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kembali bersiap menyuguhkan perhelatan budaya berskala besar melalui Festival Gandrung Sewu 2026 bertema “Kembang Dermo”. Rangkaian kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 22–24 Oktober 2026, dengan pertunjukan utama di Pantai Boom Marina, Banyuwangi.

Festival ini menjadi salah satu agenda unggulan yang mengangkat kekayaan seni dan tradisi masyarakat Banyuwangi. Tak sekadar menyuguhkan tarian kolosal, Gandrung Sewu juga menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas budaya daerah kepada generasi muda maupun wisatawan dari berbagai wilayah.

Mengusung konsep pertunjukan malam dengan sentuhan tata cahaya dan efek visual, penyelenggaraan tahun ini diharapkan menghadirkan pengalaman berbeda bagi penonton. Konsep glow in the dark atau menyala dalam gelap menjadi salah satu daya tarik yang diangkat dalam pemberitaan mengenai persiapan festival.

Rangkaian kegiatan Gandrung Sewu 2026 dijadwalkan berlangsung selama tiga hari dengan beragam pertunjukan yang merepresentasikan kekayaan seni Banyuwangi.

Pada Kamis, 22 Oktober 2026, agenda pembuka dijadwalkan menghadirkan Keroncong Banyuwangi serta Hadrah Kuntulan Caruk. Perpaduan musik dan kesenian tradisional tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan keberagaman ekspresi budaya lokal.

Memasuki Jumat, 23 Oktober 2026, rangkaian acara berlanjut dengan penampilan Musik Jalanan dan Gandrung Terob. Pertunjukan ini diharapkan menambah semarak festival sekaligus memberikan ruang bagi para pelaku seni untuk menunjukkan kreativitas mereka.

Puncak kegiatan dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Pertunjukan utama Gandrung Sewu akan menjadi sorotan, disertai sejumlah agenda pendukung yang dalam pemberitaan disebut meliputi Jaranan Show, Meras Gandrung, atraksi drone, pesta kembang api, dan hiburan musik.

Adapun jam pasti setiap kegiatan perlu mengacu pada pengumuman terbaru dari panitia penyelenggara.

Tema “Kembang Dermo” menjadi identitas utama Gandrung Sewu tahun ini. Tema tersebut membawa festival tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai sarana memperkenalkan nilai-nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Seni Gandrung sendiri telah menjadi salah satu ikon kebudayaan Banyuwangi. Melalui gerak tari, iringan musik, busana, dan ekspresi para penari, kesenian ini merepresentasikan kekayaan tradisi yang terus dijaga di tengah perkembangan zaman.

Pengemasan pertunjukan dengan teknologi pencahayaan diharapkan mampu mendekatkan kesenian tradisional kepada penonton masa kini tanpa menghilangkan karakter utamanya.

Persiapan festival turut menjadi perhatian karena pertunjukan Gandrung Sewu dikenal dengan keterlibatan penari dalam jumlah besar. Pemberitaan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebutkan sekitar 1.300 penari dipersiapkan untuk perhelatan tahun ini.

Keterlibatan banyak penari tersebut memperlihatkan besarnya dukungan terhadap pelestarian seni tradisional sekaligus menunjukkan potensi kolaborasi antara seniman, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Melalui latihan dan persiapan yang dilakukan, pertunjukan diharapkan berjalan tertib serta memberikan pengalaman yang berkesan bagi pengunjung.

Selain mengangkat kebudayaan, Gandrung Sewu juga berpotensi memberikan dampak positif bagi sektor pariwisata dan ekonomi lokal. Kehadiran wisatawan dapat membuka peluang bagi pelaku UMKM, pedagang kuliner, penyedia transportasi, hingga usaha penginapan di Banyuwangi.

Festival berskala besar ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkenalkan destinasi wisata serta produk lokal kepada masyarakat yang datang dari luar daerah.

Masyarakat yang berencana menghadiri kegiatan diimbau memantau informasi resmi mengenai jadwal, akses menuju Pantai Boom Marina, pengaturan lalu lintas, lokasi parkir, serta ketentuan masuk penonton.

Dengan perpaduan tradisi, pertunjukan kolosal, dan sentuhan teknologi, Gandrung Sewu 2026 diharapkan semakin memperkuat posisi Banyuwangi sebagai salah satu daerah tujuan wisata budaya di Jawa Timur.
(Red)

error: Content is protected !!