Krisis Antrean BBM di Bali, Warga Rela Menunggu Berjam-jam demi Mendapatkan Bahan Bakar

BALI | SINGHASARI-POST
Sabtu(17/10/2026) — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah Bali memicu antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Warga terpaksa menunggu berjam-jam demi mendapatkan BBM, bahkan sebagian dilaporkan bertahan hingga 11 jam.

Situasi tersebut terlihat di sejumlah SPBU di Kabupaten Buleleng, termasuk kawasan Jalan Gajah Mada, Jalan Ahmad Yani, dan Banyu Asri. Antrean kendaraan mengular sejak pagi hingga siang hari. Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Karangasem, ketika warga tetap menunggu meskipun persediaan BBM di SPBU belum tersedia.

Lamanya waktu tunggu membuat masyarakat harus mengorbankan waktu dan tenaga. Sebagian warga bahkan memilih bertahan di sekitar SPBU, sementara lainnya beristirahat di dalam kendaraan sambil menunggu pasokan datang.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa stok BBM nasional disebut masih mencukupi untuk sekitar 18 hari. Namun, persoalan yang terjadi di Bali berkaitan dengan distribusi pasokan, terutama pengiriman BBM menggunakan kapal dari Jawa Timur.

Pemerintah meminta Pertamina memperbaiki distribusi agar pasokan dapat segera menjangkau wilayah yang mengalami kekurangan. Penambahan armada kapal juga menjadi salah satu langkah yang didorong untuk mempercepat pengiriman BBM.

Kondisi ini menunjukkan bahwa ketersediaan stok secara nasional belum tentu menjamin kebutuhan masyarakat terpenuhi apabila distribusi di daerah mengalami hambatan.

Dampak antrean panjang tidak hanya dirasakan warga, tetapi juga petugas SPBU yang harus melayani lonjakan pembeli. Di SPBU Badak Agung, Denpasar, seorang operator bernama Komang Ayu dilaporkan mengalami penurunan kondisi fisik saat bertugas.

Petugas tersebut mendapat pertolongan awal dan bantuan oksigen. Kondisinya disebut membaik setelah mendapatkan penanganan, tanpa harus dibawa ke rumah sakit.

Operasional SPBU yang berlangsung hingga 24 jam untuk mengurai antrean turut menambah beban kerja petugas di lapangan. Situasi ini menjadi pengingat bahwa penanganan gangguan pasokan harus disertai perhatian terhadap keselamatan dan kondisi pekerja.

Antrean panjang BBM berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, mulai dari mobilitas harian hingga kegiatan usaha yang bergantung pada kendaraan. Karena itu, percepatan distribusi menjadi kebutuhan mendesak agar warga tidak terus menghabiskan waktu di SPBU.

Pemerintah dan Pertamina diharapkan memastikan pasokan segera kembali normal, sekaligus memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat mengenai ketersediaan BBM di setiap wilayah.

Bagi warga Bali, persoalannya bukan semata-mata berapa banyak stok BBM yang tersedia secara nasional, melainkan kapan bahan bakar tersebut benar-benar dapat diperoleh di SPBU terdekat.
(Red).

error: Content is protected !!