Singosari Deklarasikan Kecamatan Tangguh Bencana, Sinergi Warga dan Pemerintah Jadi Kunci Hadapi Ancaman Bencana

MALANG || SINGHASARI-POST
– Kesiapsiagaan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Kesadaran masyarakat, kesiapan desa, relawan, dunia usaha hingga dukungan legislatif menjadi bagian penting untuk membangun sistem penanggulangan bencana yang kuat.

Semangat tersebut mengemuka dalam Sosialisasi dan Deklarasi Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) Tahun 2026 yang digelar di Pendopo Kecamatan Singosari, Jalan Tumapel Nomor 38, Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Selasa (11/8/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 08.30 WIB itu menjadi momentum untuk memperkuat kesiapan seluruh unsur di wilayah Singosari dalam menghadapi berbagai potensi bencana sekaligus membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya mitigasi sejak dini.

Sejumlah unsur hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya anggota DPRD Kabupaten Malang Abdul Kodir dan Sodikul Amin, Camat Singosari Willem S.Sos, Kapolsek Singosari AKP Zainuddin, perwakilan Koramil Singosari Peltu Budi Setiawan selaku Bati Tuud, perwakilan BPBD Kabupaten Malang, jajaran kepala desa dan lurah se-Kecamatan Singosari,
Antara lain, Drs Subadi ( kades randuagung Melani Astuti S,Sos Lurah candirenggo , jefry Arnast( kades Klampok ,Sumarno ( kades purwoasri), Wawan sudarmono lurah losari , Solehan Kades baturerno , Agus ( kades dengkol) , sumardi kades tamanharjo , Arga Kuncara ( lurah pagentan ), sekdes samsul arifin Gunung rejo.
PMI, Puskesmas Singosari serta para relawan.

Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan bencana membutuhkan kerja bersama, bukan hanya ketika bencana terjadi, tetapi juga jauh sebelum ancaman datang.

Anggota DPRD Kabupaten Malang, Sodikul Amin, mengatakan program Kencana yang diinisiasi BPBD merupakan langkah penting untuk membangun kesadaran sekaligus kesiapan masyarakat menghadapi bencana.

Menurutnya, pembentukan kecamatan tangguh bencana memang tidak dapat dilakukan secara serentak di seluruh wilayah Kabupaten Malang. Keterbatasan anggaran membuat pelaksanaannya harus dilakukan secara bertahap.

“Ini tidak bisa serempak, tetapi dilakukan bertahap di Kabupaten Malang karena keterbatasan anggaran. Momentum seperti ini harus kita dukung bersama melalui pokok-pokok pikiran DPRD, terutama untuk menanggapi keluh kesah dan kebutuhan yang ada di masing-masing desa,” ujarnya.

Sodikul menilai, keberadaan Kencana juga dapat menjadi stimulus bagi masyarakat agar semakin memahami bahwa bencana bukan hanya persoalan ketika kejadian berlangsung.

Edukasi, mitigasi dan perencanaan harus dilakukan sejak awal sehingga masyarakat tidak hanya menjadi pihak yang menunggu bantuan ketika bencana terjadi.

“Ini menjadi stimulus dan rangsangan kepada masyarakat supaya sadar terhadap tanggap bencana. Desa juga memiliki keterbatasan anggaran untuk melakukan sosialisasi secara mandiri. Karena itu, semua harus bersinergi, termasuk dunia usaha,” tegasnya.

Ia berharap keterlibatan berbagai pihak tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Dunia usaha, pemerintah, masyarakat dan relawan harus ikut terlibat sejak tahap perencanaan, edukasi hingga mitigasi.

“Bukan hanya saat terjadi bencana. Proses perencanaan, edukasi dan mitigasi bencana mulai sekarang harus diterapkan,” imbuhnya.

Sementara itu, Camat Singosari Willem S.Sos menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang hadir dan mendukung kegiatan tersebut.

Ia menegaskan bahwa Singosari memiliki karakteristik wilayah yang membutuhkan kesiapsiagaan bersama. Dengan jumlah penduduk yang hampir mencapai 200 ribu jiwa, Singosari menjadi salah satu kecamatan dengan populasi terbesar di Kabupaten Malang.

“Singosari ini kecamatan paling besar, penduduknya hampir 200 ribu, hampir seperti Kota Batu,” ungkap Willem.

Namun, besarnya jumlah penduduk tersebut, menurutnya, tidak menjadi penghalang selama seluruh elemen masyarakat mampu menjaga sinergi.

Mulai dari tokoh masyarakat, kepala desa dan lurah, jajaran UPT, stakeholder, pengusaha hingga relawan dinilai memiliki peran penting dalam menjaga keamanan, kerukunan dan solidaritas masyarakat.

“Berkat sinergi bersama, tokoh masyarakat, kepala desa, UPT, stakeholder, pengusaha dan relawan, semuanya berada dalam satu panji-panji Kabupaten Malang dan pembangunan. Termasuk kerukunan beragama dan solidaritas masyarakat,” katanya.

Willem bahkan menyebut kekuatan sinergi dan solidaritas masyarakat Singosari menjadi salah satu yang terbaik.

“Singosari nomor satu,” tegasnya.

Ia menyebut, tingkat sinergitas dan solidaritas masyarakat Singosari juga mendapatkan perhatian hingga tingkat Provinsi Jawa Timur.

“Dari Provinsi Jawa Timur juga seperti itu. Dari 666 kecamatan, Singosari nomor satu tingkat sinergitas dan solidaritasnya,” pungkasnya.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penyerahan rompi, deklarasi Kencana Singosari serta penandatanganan deklarasi sebagai bentuk komitmen bersama.

Para peserta juga meninjau kesiapan peralatan penanggulangan bencana yang menjadi bagian penting dalam mendukung respons cepat ketika terjadi keadaan darurat.

Deklarasi Kencana Singosari diharapkan tidak berhenti sebagai seremoni. Lebih dari itu, menjadi langkah awal untuk membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat, memperkuat koordinasi antarlembaga dan memastikan setiap desa maupun kelurahan memiliki kesiapan menghadapi potensi bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi.

Dengan kolaborasi pemerintah, DPRD, BPBD, TNI-Polri, desa dan kelurahan, dunia usaha, PMI, tenaga kesehatan serta relawan, Singosari diharapkan semakin siap menghadapi bencana sekaligus mampu meminimalkan risiko dan dampaknya bagi masyarakat.
(Red).